Selasa, 01 November 2011

cerita 2

1 komentar


Cerita ini adalah Prequel dari cerita Menjelang Pernikahan Mas Randy.
Sepulang dari kantornya di bilangan Sudirman, Randy menyempatkan menjemput Tania, calon istrinya, yang bekerja di kawasan Kuningan. Mereka memang janjian untuk ke club kebugaran sepulang kerja. Melatih otot-otot tubuh sambil menantikan kemacetan di jalanan Jakarta usai.
Keduanya memang rajin ke club kebugaran. Karenanya tubuh mereka jadi terbentuk dengan baik. Randy, tinggi atletis. Sementara Tania ramping dan sexy. Semua orang mengatakan mereka pasangan yang serasi. Layaknya Dewa dan Dewi di cerita dongeng saja.
Club kebugaran tempat mereka terdaftar menjadi member terlihat ramai seperti biasanya. Anggotanya banyak para eksekutif muda. Seperti juga Randy dan Tania, mereka melatih otot disini sambil menantikan jalanan yang macet usai. Jam pulang kantor pasti selalu macet di jalan raya.
“Hai pengantin baru. Selamat datang,” sambut Chandra. Instruktur fitness di club kebugaran itu. Si Chandra ini memang bodynya oke banget. tampangnyapun ganteng dan jantan. Tapi kok bisa feminin luar biasa. Suaranya saja terdengar kenes saat menyambut Randy dan Tania.
“Ihhh Chandra. Masih calon. Minggu depan baru sah,” sahut Tania sambil tersenyum mesra pada Randy. Pipi Chandra dicubitnya genit.
“Idihhh… main cubit-cubitan dengan gue ya. Entar ada yang marah lhooo..,” katanya genit. Matanya mengerling nakal pada Randy.
“Dasar genit,” kata Randy. Dia memang suka juga menggoda si Chandra. Soalnya dalam pandangannya Chandra itu lucu sekali. Penampilan fisiknya yang macho dan jantan gak sepadan dengan gayanya yang feminin. Bukan hanya Randy, hampir semua member club kebugaran itu suka menggoda Chandra. Kalo kumatnya udah latah, maka yang mendengar bisa terkikik-kikik. Tuh anak suka ngomong jorok sesukanya kalo latahnya kumat. Kalo si Chandra jelas doyan digodain. Apalagi kalo yang godain cowok. Makin semangat dia.
Randy dan Tania segera menuju ruang ganti pakaian. Tania ke ruang ganti cewek, sementara Randy ke ruang ganti cowok. Di ruang ganti, Randy bertemu dengan dua instruktur pria yang sudah dikenalnya lama. Sejak dia bergabung di club itu. Mereka adalah Rio dan Panca. Mereka ini sebaya dengan Randy, sekitar dua puluh tujuh tahunan. Sebagaimana layaknya orang yang rajin fitness, tubuh keduanya atletis sekali. Mereka ini tidak seperti si Chandra. Sepanjang Randy mengenal mereka, Rio dan Panca terlihat sangat laki-laki seperti dirinya juga. Karenanya ia suka ngobrol dengan mereka.
Saat Randy masuk, keduanya sedang telanjang bulat. Bersiap-siap bertukar pakaian olah raga. Rupanya mereka juga baru datang. Di ruang ganti ini, biasa saja mereka bugil seperti itu. Memamerkan organ tubuh mereka sampai yang paling pribadi sekalipun. Namanya ruang ganti.
“Baru datang Ran?” tanya Panca. Tubuhnya yang telanjang menghadap lurus ke arah Randy. Kontolnya yang besar terlihat menggantung lemas ke arah bawah, diantara rimbunan jembutnya yang lebat.
“Yoi Ca. Elo berdua juga baru datang ya?” tanya Randy sambil mulai melepaskan seluruh pakaian kerjanya.
“Iya. Makanya juga baru tuker pakaian,” ini Rio yang menyahut. Tubuh ketiganya kini sudah sama-sama telanjang. Untuk urusan telanjang begini, Randy boleh berbangga, karena ukurannya kontolnya gede sama seperti kedua instruktur itu.
Ada beberapa teman fitness mereka yang kalo sudah telanjang begini suka menyembunyikan alat vitalnya. Soalnya banyak juga yang ukuran kontolnya gak sesuai dengan bodynya. Tubuh kekar atletis, sementara kontol kecil. Memang tidak ada yang mengejek. Tapi, wajar aja kan kalo jadi kurang pede.
“Rand, kita diundang gak pesta pernikahan elo?” tanya Rio.
“Diundang dong. Semua member dan instruktur yang gue kenal pasti gue undang. Santai aja men,” sahut Randy. Ketiganya sudah siap mengegnakan pakaian olah raga.
“Rand, bikin pesta bujangan dong. Masak hari ini gak ada pesta bujangannya,” kata Panca.
“Iya Rand. Gak seru dong,” sahut Rio mendukung usul Panca.
“Boleh aja. Mau dimana bikinnya?”
“Di rumah elo dong. Kamar elo kan pavillyun tuh. Kan bebas disitu,” kata Panca lagi. Mereka memang pernah diajak Randy ke ruamhnya. Ngobrol-ngobrol sambil mabok.
“Kayaknya gak mungkin deh. Rumah gue dah mulai rame nih,”
“Kalo gitu gimana kalo di kontarakan kami aja? Gue sama Panca kan ngontrak bareng-bareng Erwin dan Yuda. Ini kalo elo setuju,” Rio menawarkan. Panca ngangguk-ngangguk setuju. Hendar dan Yuda itu juga instruktur di club ini. Dan Randy juga kenal. Mereka berempat memang berasal dari luar Jakarta. Sama-sama bekerja di tempat yang sama, mereka sepakat ngontrak rumah bareng-bareng. Menjadi instruktur fitness, sebenarnya pekerjaan sampingan mereka. Masing-masing punya pekerjaan tetap sendiri-sendiri. Rio bekerja sebagai pelayan di restoran fast food. Panca, perawat di sebuah klinik spesialis kanker. Sedangkan Erwin teller di bank asing. Kalau Yuda itu sebenernya intel di kepolisian. Tapi kalo orang tidak terlalu dekat dengannya, hanya tahu kalau dia bekerja sebagai wartawan lepas sebuah surat kabar.
Randy memang dekat dengan mereka berempat. Karena obrolan mereka nyambung. Dan orangnya gak ada yang sengak.
“Gak mungkin dong disitu. Kedengaran tetangga kan berabe. Kontrakan kalian kan di kompleks perumahan. Padat lagi penduduknya,”
“Kalo gitu gimana dong?”
“Gini aja. Kita sewa aja satu kamar hotel. Gimana?”
“Waduh, jadi gak enak nih Rand. Biayanya gede banget,”
“Santai aja. Gue kan punya banyak fasilitas diskon kamar hotel yang gue dapat dari perusahaan gue,” jawab Randy. Panca dan Rio ngangguk-ngangguk.
“Boleh kalo gitu. Kapan waktunya?” kata Panca.
“Terserah kalian aja,” sahut Randy.
“Besok aja, malam sabtu Rand. Kalo malam minggu kan jatah elo sama Tania,” sahut Panca nyengir,
“Oke deh,” sahut Randy. “Ada kenalan cewek yang bisa diajak gak?’ tanya Randy lagi.
“Ada dong. Elo santai aja. Hehehe,” kata Rio.
“Kalau gitu, ini gue kasih duit dua juta dulu, buat elo kasih panjar ke cewek-cewek yang elo bawa. Trus besok sore elo bawa tuh cewek ke hotel. Kalau udah sampe hotel, elo telpon gue. Biar gue hubungi manajer hotelnya. Supaya dia nyediain minum dan makanan buat kita. Gimana?” kata Randy sambil menyerahkan duit pecahan seratus ribu ke Panca. “Kekurangannya besok gue tambah,”
“Sip men,”
Malam itu Randy melatih tubuhnya dibimbing Panca. Sedangkan Tania dibimbing Chandra. Usai fitness Randy mengantarkan Tania pulang, sebelum kembali ke rumahnya sendiri. Sambil pulang ia menyempatkan berbicara sama Tania, bahwa besok ia tak bisa menjemput karena pengen ngajakin teman-temannya instruktur fitness itu minum-minum. Tentu saja ia tak mengatakan mereka akan mengadakan pesta bujangan. Bisa berabe kan.
Besoknya, setelah memastikan Tania pulang ke rumah dengan aman, Randy meluncur ke club kebugaran. Dia melatih tubuhnya sebentar, kemudian melanjutkan dengan renang sambil menunggu Erwin dan Yuda yang dapat jatah bertugas malam ini selesai kerja. Sementara Panca dan Rio sedang mempersiapkan segala sesuatu seperti yang dikatakannya kemarin.
Pukul sembilan malam, club kebugaran itu tutup. Randy, Erwin, dan Yuda, segera meluncur ke hotel yang mereka tetapkan sebagai tempat pesta bujangan itu.
“Candra gak masuk ya hari ini?” tanya Randy sambil menyetir mobilnya dalam perjalanan.
“Kenapa Rand? Kangen?” goda Yuda.
“Enak aja. Kalo dia ada malah berabe. Untung tadi dia gak ada. Kalo ada trus pengen ikut, kan enggak enak kalo gak dibawa,” kata Randy.
Kamar yang dipesan adalah suit. Jadi ukurannya luas dan bentuknya mirip seperti apartemen. Begitu masuk ke dalam kamar hotel, botol-botol bir, dan minuman keras sudah banyak terhidang di atas meja. Mereka sudah mempersiapkan untuk mabok gila-gilaan rupanya. Televisi layar lebar juga ada lengkap dengan VCD playernya. Setumpuk VCD bokep bajakan sudah disediakan juga didekat televisi itu.
“Ceweknya mana?” tanya Randy. Soalnya yang lain sudah tersedia, tinggal ceweknya yang belon ada.
“Sabar boss. Mereka sedang bersiap-siap di kamar,” sahut Panca.
“Rand, elo bakal dapet surprise malam ini,” kata Yuda terkekeh-kekeh.
“Surprise? Kalian nyiapin apaan?” tanya Randy penasaran.
Lampu kamar diredupkan. Lalu irama musik lembut dihidupkan. Dari dalam kamar bermunculannya tiga orang wanita berpakaian sexy. Baju ketat dan rok yang sangat pendek. Mereka kemudian menggerak-gerakkan tubuh dengan erotis. Tubuh meraka benar-benar sexy. Lekuk-lekukya sangat jelas. Buah dada mereka montok-montok. Para lelaki itu tertawa-tawa sambil minum bir menonton pertunjukan itu.
Para penari mulai melepaskan tubuh atas mereka. Memamerkan buah dada mereka. Randy sangat tergoda melihat tontontan itu. Bergelas-gelas bir dan minuman keras diminum oleh Randy. Para penari terus menari. Tapi belum sampai membuka bagian bawah mereka.
Kepala Randy sedikit puyeng karena setengah mabok. Penari-penari itu sudah semakin binal. Buah dada mereka digosok-gosokkan ke wajah laki-laki yang menonton. Randy keenakan. Puting susu yangd ekat diwajahnya langsung dikulumnya.
“Sekarang pertunjukannya dimulai Rand,” kata Erwin berbisik pada Randy.
“Ngapain mereka?” tanya Randy setengah mabok.
“Mereka bakal buka rok dan celana,” sahut Rio.
“O, ya. Sip,” sahut Randy.
Pelan-pelan penari itu melepas rok mereka. Celana dalam mereka yang mungil terlihat jelas. Randy yangs etengah mabok mencoba memperjelas pandangannya. Dia melihat semua penari itu memiliki jembut yang lebat sekali. Sampai melewati garis celana dalam mereka.
“Memek mereka gundukannya gemuk banget ya. Pasti enak nih,” kata Randy. Dalam tatapan setengah maboknya ia melihat penari-penari itu memang memiliki gundukan yang cukup besar ditengah selangakangan mereka. Para instruktur fitness teman Randy tertawa-tawa saja.
Tiba-tiba dari dalam kamar muncul si Chandra. Ia hanya menggenakan celana dalam yang sangat minim. Gundukan kontolnya yang besar terlihat jelas.
“Ngapain Chandra disini?” tanya Randy bingung. Yuda, Panca, Rio, dan Erwin tak memperdulikan pertanyaan Randy.
Chandra mendekati penari-penari itu. ia ikut bergerak-gerak erotis di deat mereka. Gundukannya yang besar di gesek-gesekannya ke gundukan para penari itu yang juga cukup besar.
“Emang si Chandra doyan cewek?” tanya Randy.
Pelan-pelan para penari yang cantik dan sexy itu melepaskan celana dalam mereka yang mungil dan berwarna-warni. Chandra yang berada ditengah-tengah penari itu, juga terlihat akan membuka celananya. Begitu celana itu terlepas, dan para penari itu berdiri tegak mengangkang di depan semua penonton, Randypun terperanjat.
“Lhoo.. lhooo.. cewek kok ada kontolnya?” tanyanya bingung. Para penari dan Chandra kini berdiri mengangkang berkacak pinggang. Celana dalam sudah turun sampai paha mereka. Semua selangkangan mereka memiliki kontol dalam ukuran yang cukup besar. Yang paling besar diantara mereka adalah kontol Chandra.
“Mereka waria ya? Kalian mengundang waria ya?” tanya Randy bingung.
“Hehehehe. Ini surprise dari kita buat elo Rand. Sekali-kali elo nyobain yang berbeda dong. Masak gitu-gitu mulu,” kata Erwin tertawa pada Randy.
“Lagian mereka kan sexy-sexy. Liat tuh,” kata Panca.
“Kecuali si Chandra,” celetuk Yuda. Chandra cemberut. Cowok-cowok yang lain tertawa-tawa, kecuali Randy. Sedangkan para penari yang cantik-cantik itu tersenyum-senyum nakal. Mereka beneran cantik lho. Kalo gak buka celana dalam seperti sekarang ini, gak ada yang bakalan tau kalo mereka itu ternyata waria.
Para penari dan Chandra melanjutkan gerakan erotis mereka. Pinggul mereka sengaja digeol-geolkan, membuat kontol mereka jadi bergoyang-goyang. Randy terus melotot dengan bingung diantara kondisinya yang setengah mabok itu. Para penari mendekat ke arah penonton. Begitu sudah dekat, mereka kembali menggoda para cowok yang menonton itu dengan gesekan tubuh telanjang mereka. Panca, Rio, Erwin dan Yuda tertawa-tawa kegirangan. Tangan mereka asik meremas-remas pantat para penari yang putih-putih dan montok. Panca yang dapet jatah digoda Chandra terlihat cuek. Tangannya dengan nakal meremas-remas pantat cowok feminin itu. malah kontol si Chandra pun ikut diremas-remasnya.
Randy melongo melihat kawan-kawan instruktur fitnessnya itu. Tak menyangka dengan apa yang disaksikannya. Ia sendiri sibuk menghindar dari seorang penari waria yang menggodanya.
“Rand, ayo dong. Kok malu-malu gitu sih?” kata Erwin tertawa.
“Enak aja. Gue geli lagi. Elo-elo kok pada asik gitu sih? Kalian homo ya?” tanyanya.
“Panca homo? Dia mah playboy Rand,” kata Chandra tertawa-tawa. Dengan kontolnya Chandra kini menampar-nampar lembut pipi Panca. Sementara Panca tersenyum-senyum pada Randy. Jemarinya sibuk meremas pantat Chandra. “Pantat elo bagus banget sih Chand,” katanya.
“Iya dong. Makanya elo doyan kan?” sahutnya centil.
“Gila lho. Pesta bujangan gue kok elo bikin ginian sih?” Randy mulai tak suka. Ia berdiri dari tempat duduknya, bersiap meninggalkan kamar. Langkahnya sempoyongan menuju pintu kamar hotel itu.
“Santai dong Rand,” kata Yuda. “Jangan terlalu konservatif lah. Zaman udah era digital begini, masak elo kolot gitu sih? Ini cuman untuk happy-happy doang men. Just for fun. Yang homo itu cuman si Chandra doang. Kita-kita jelas enggaklah. Santai dong Rand,” ia menjajari langkah Randy menuju pintu. Dipegangnya tangan Randy mencegah cowok itu membuka pintu kamar hotel.
“Enak aja nyantai. Gue cowok normal. Enak aja elo ajak maen dengan yang ginian. Lepasin tangan gue!” katanya marah.
Yuda segera mencabut kunci kamar hotel dari gerendel pintu. “Apa-apaan si lo Yud? Kalo elo homo, jangan tularin ke gue,” katanya lagi.
“Terserah elo deh mo ngomong apa. Yang penting elo kalo mo keluar jangan lewat pintu. Lewat jendela aja kalo berani. Biar elo jatuh dari lantai enam ini. Sekalian mati, hehehe,” kata Yuda. Ia kembali mendatangi waria yang tadi menggodanya.
“Siniin kuncinya Yud. Kalo enggak gue….,” Randy mengancam.
“Kalo enggak kenapa? Lho mo mukul gue? Pukul aja kalo elo berani,” tantang Yuda. Mendengar tantangan Yuda, Randy jadi mengkeret juga. kalaupun dia bisa ngalahin si Yuda, dia masih harus berhadapan dengan yang lain juga. Percuma juga dia melawan. Yuda dan yang lain tertawa melihat Randy.
“Rand, masak sih orang kayak elo takut mencoba sesuatu yang baru? Si Yuda kan udah bilang, kita ini bukan homo. Ini cuman untuk senang-senang aja kok. Kita pengen bikin elo senang-senang menjelang kawin dengan mencoba sesuatu yang gak biasa. Kalo dengan cewek elo kan udah biasa. Pesta bujangan elo perlu dibuat luar biasa. Makanya kita undang mereka-mereka ini,” kata Rio.
“Iya Rand. Jangan takutlah. Bukannya elo main-main dengan waria kayak gini terus elo jadi homo. Tanya aja tuh si Jenny, berapa banyak cowok normal yang pernah maen dengan dia. Tanya juga apa mereka jadi homo setelah maen dengan si Jenny,” sambung Panca.
“He eh Mas. Malah yang udah kawin juga banyak kok,” kata Jenny mengiyakan Panca. Jenny ngomongnya lembut banget kayak cewek beneran. Gak ada suara laki-lakinya sama sekali deh.
Randy jadi makin keqi. Dia paling gak suka kalo dibilang takut. Tapi saat itu dia emang jengah banget.
“Kalo gitu elo duduk disitu aja deh Rand. Nonton kita-kita aja. Kalo mau tidur juga terserah. Kami pengen lanjutin lagi nih,” kata Erwin kemudian. “Sel, sepong kontol gue dong,” kata si Erwin pada Selly alias Sofyan yang sedang berdiri di dekatnya. Selly jelas aja siap dengan melayani permintaan Erwin itu. Ia segera jongkok diantara paha Erwin yang mengangkang. Tangannya dengan cepat membuka resleting celana instruktur fitness itu.
“Ihhh gede banget deh,” kata Selly begitu melihat kontol Erwin. Langsung aja kontol itu dimasukkannya ke dalam mulutnya.
Yang lain juga ikutan. Masing-masing kontol mereka mulai dioral oleh para penari itu.
“Elo mau disepong juga Ca?” tanya Chandra nakal pada si Panca.
“Iya dong. Entar si Randy bilang elo homo deh. Masak dioral sama gue,” kata Chandra menyindir.
“Terserah deh dia mau bilang apa. Abis yang laen udah dapet jatah semua sih. Terpaksa deh gue sama elo,” sahut Panca santai. Tak berlama-lama Chandra langsung mulai menyelomoti kontol Panca yang segede terong itu.
Randy tak tau mau berbuat apa. Dia membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Berusaha tidur. Namun percuma saja. Ia terganggu dengan suara-suara oral disekitarnya.
“Oooooohhhh……enak banget Jennn…,”
“Yahhh… yahhh….ergghhhhhhh..,”
“Gila Chand, gilahhhh…… ssshhhhhh… sshhhh…,”
“Ohhh.. ohhh…ohhh….ohhhh…,”
Teman-temannya itu menyengajakan suara-suara desahan mereka keras-keras. Niatnya membuat Randy terangsang. Dan Randy memang tak sanggup untuk tidak terangsang. Meskipun ia berusaha untuk mengalihkan pandangannya dari mereka, namun tetap saja sekali-sekali ia melirik. Melihat apa yang dilakukan oleh delapan orang yang sedang beradegan mesum itu ia mulai tergoda. Sekuat tenaga ditahannya godaan itu.
Lima menit berlalu. “Aduhh.. aduhh.. enak banget…ahhh.. ahh… Jen gak tahann.. gue pengen entot elo,” kata Rio. Ia segera menarik tubuh ramping Jenny ke atas ranjang. Dekat dengan posisi berbaring Randy saat itu. “Kalo gak suka, jangan liat Rand,” katanya.
Jenny disuruhnya mengangkang di tepi ranjang. Waria itu segera melebarkan pahanya. Randy melotot melihat kontol Jenny yang membengkak. Para penari itu sudah menyediakan KY rupanya. Rio langsung melumuri kontolnya dengan KY, begitu juga lobang pantat Jenny. Karena telah dilumuri KY, Rio tak kesulitan melakukan penetrasi di lobang pantat waria itu. sebentar saja ia sudah asik bergoyang pantat. Menganal Jenny dengan ganas.
“Rio, lemparin KY nya ke gue,” kata Panca. Rio segera melempar KY dalam tube itu pada temannya si Panca. Randy kaget, si Panca mau ngembat si Chandra?
Chandra langsung menungging berpegangan pada kursi. Panca melumuri kontolnya sendiri dengan KY, juga lobang pantat Chandra. Kemudian ia berdiri di belakang Chandra, mulai menganal cowok itu. Randy bengong melihat dua laki-laki yang sama-sama kekar itu asik bergoyang pantat dengan nikmat.
“Ohhh…ohhh.. enak banget Chand… sempit banget,” racau Panca.
Erwin dan Yuda pun mulai ikutan. Randy akhirnya jadi penonton pertunjukan cabul itu. Suara-suara persenggamaan mereka semakin merangsang birahinya.
Menit-menit berlalu. Tubuh-tubuh mereka yang sedang mengentot mulai keringatan. Genjotan pantat mereka semakin cepat dan menghentak-hentak.
“Sel.. Sell.. ssshhhh… tukeran dongg sshhhh… Gue kan pengen ngerasain si Erwin jugaahhhh… sshhhh,” kata Chandra.
“Dasar gatel deh elohh sshhhh… sshhhh… ahhh.. ahhh… ya udah. Tukeran sini,” sahut Selly. Pertukaran pasangan pun dimulai. Kini Chandra dientot oleh Erwin, dan Panca menggumuli Selly. Yuda dan Rio pun bertukar pasangan. Pesta sex terus berlanjut.
Kalau Randy pengen keluar sekarang dari kamar itu sebenarnya bisa. Dari tadi juga bisa. Karena celana Yudi sudah tak lagi dikenakannya. Randy bisa mengambil kunci kamar hotel dari saku celana instruktur fitness itu. tapi Randy jadi tak ingin lagi keluar kamar itu. Entah kenapa ia menjadi menikmati tontonan di depan matanya itu. Ia kini duduk menonton. Ranjang tempatnya duduk yang bergoyang-goyang karena gerakan tubuh Rio dan Windy, penari waria yang satu lagi, membuat birahinya semakin bergejolak.
“Beneran gak pengen nyobain nihh? Ssshhh?” tanya Rio padanya. Randy jadi tergoda pada tawaran Rio itu. “Kalo mau nih gue kasih nyobain sshhhh.. shhh.. ahh. Ahh.. ahh..,” kata Rio lagi.
Randy menimbang-nimbang beberapa saat. Akhirnya iapun kalah dengan nafsunya sendiri. Ia tak sanggup lagi menahan birahinya. Dilepaskannya pakaiannya. Rio tersenyum senang melihat reaksi Randy.
“KY tadi mana? Kasihin ke Randy deh shhh.. shhh… shhh..,” katanya pada yang lain.
Chandra melemparkan KY yang kebetulan ada didekatnya pada Randy. Sigap Randy menangkap tube KY itu.
“Lumuri dulu di kontol elohh.. sshhh…shhh..,” kata Rio dengan tetap terus bergoyang pantat.
Terburu-buru Randy melakukan apa yang disuruh Rio. Setelah selesai ia berdiri di samping Rio. Rio melepaskan kontolnya dari lobang pantat Windy. Randy mulai melakukan penetrasi pada waria itu.
“Ssssssshhhhhh ahhhh….,” erang Randy saat kontolnya menembus lobang pantat Windy yang sempit.
“Gimana Rand?” tanya Rio.
“Oooohhhhh…. sempit bangethhh….,” katanya.
“Enak kan?” tanya Windy genit.
“Sssshhhhh… ohhh…. enak… banget Windd..,” katanya. Pantatnya segera bergerak begitu kontolnya amblas dalam lobang pantat Windy.
Rio tersenyum melihat reaksi Randy. Teman-temannya yang lain juga. Rio kemudian mendekati mulut Windy.
“Wind, oral gue deh,” katanya.
Windy langsung menggenggam kontol Rio. KY yang melekat di kontol Rio dibersihkannya dengan sprey ranjang itu. setelah kontol itu bersih ia mulai melumat dengan penuh semangat. Windy keenakan. Ia menikmati sekali dientot Randy dan mengoral Rio.
Randy mengerang-erang. Mulutnya meracau-racau. Ia sangat keenakan atas sensasi mengentot lobang pantat waria itu.
“Riohhh.. sshhhh….shhh… oral gue donghhh sayhhh shhh…,” kata Windy.
“Boleh,” sahut Rio. Ia segera membungkukkan tubuhnya. Mulutnya langsung melahap kontol waria itu yang sudah keras mengacung. Randy terhenyak. Ia kaget melihat Rio yang jantan itu santai saja melakukan oral pada kontol Windy. Namun karena ia sedang keenakan, keheranannya itu dilupakannya saja. Ia terus mencari kenikmatan dari lobang pantat Windy. Ia terus bergerak pantat dengan cepat.
“Rand, coba lihat ke belakang deh,” kata Rio. Randy menoleh ke belakang. Dan ia kaget kembali. Di belakang ia melihat sudah terjadi pertukaran posisi lagi. Panca kini menggumuli Jenny. Sementara Sally malah asik mengentot Chandra. Gila tuh. Apa gak salah? Pikir Randy. Yang lebih mengagetkannya adalah melihat Yuda yang sedang asik menggempur lobang pantat Erwin dengan kontolnya. Kedua lelaki kekar dan jantan itu terlihat keenakan sekali. Erwin malah menggerakkan pantatnya tak kalah keras membalas hentakan pantat Yuda.
“Mo nyobain kayak Yuda dan Erwin gak?” pancing Rio.
“Gila lo,” sahut Randy. Dia terus menggenjot lobang pantat Windy dengan kecepatan penuh.
“Enak lagi. Ya enggak Yud?” kata Rio dengan suara agak keras. Tujuannya agar Yuda mendengar apa yang dikatakannya.
“He eh. Enak banget Rand. Entar dehh.. elo cobain jugah hhh sshhh… shhh…,” sahut Yuda yang sedang in action menganal Erwin menanggapi kata-kata Rio.
“Ahh.. ahhh.. ahh.. ahhh… enggak dehhh ahhh.. ahhh… elo ajahh.. ahhh…,” kata Randy.
“Gak nyesel Randhh? Hhhh sshhhh… shhh……,” tiba-tiba Windy yang sedang dientot Randy ngomong. “Sayang lohhh…? hhh… shhh… shhhh….,”
“Hahhh… hahhh… ahhh… ahhhh… enggakk ahhh… ahhh… ahhh… ngentothh eloh ajahhh.. ahhh…cukuphhh… shhh….. shhh…..,” sahut Randy pada Windy.
“Ngentothhh cowokkhhh shhhh…. shhh… sshheruhhh lohh.. hhhh… hhhh,” sambung Windy lagi menggoda. Pantatnya sengaja diputar-putarkannya. Randy mulai tak bisa mengontrol diri lagi. Batang kontolnya dirasakannya mulai berdenyut. Orgasmenya akan segera datang.
Tak lama spermanyapun menyembur deras dalam lobang pantat Windy. Waria itu mendesis-desis menikmati semburan sperma kental hangat itu dalam lobang pantatnya.
“Udahan Rand?” tanya Rio.
“Hohhh… hohhh… yahhh… hohhh…,”
“Cepet banget sih? Kok tumben? Keenakan ya ngentotin lobang pantat Windy? Hehehe?” goda Rio yang terus mengoral kontol si Windy.
Randy pura-pura tak mendengar kata-kata Rio itu. Ia langsung merebahkan tubuhnya telentang disamping Windy.
“Riohhh… gantiin Randy dong shhh.. shhh…,” kata Windy.
“Kenapa Wind? Masih nanggung?”
“He eh. Belon orgasme nih gue. Si Randy cepet banget keluarnya,” sahut Windy.
“Abis pantat elo binal banget sih,” kata Rio cengengesan. Windypun ikutan cengengesan. Sementara Randy tersengal-sengal dengan tubuh bersimbah keringat disamping Windy.
“Erwin aja deh gantiin elo. Gue pengen ngembat si Yuda aja,” kata Rio. “Win, Win sini Win. Entot si Windy nih,”
“Hohhh… hohhh…. tanggung nihhh… ohhhh… kontol Yudah enak banget hhh… hhh..,” kata Erwin. Dia tak rela melepaskan kontol Yuda dari pantatnya sekarang. soalnya dia sedang keenakan dientot ama cowok ganteng bertubuh kekar itu.
“Gue ajahhh…,” celetuk Panca yang sedang menggumuli Jenny.
“Trus guehh…? Ssshhh…sshhhh… Beresin dulu guehhh.. hhh.. ahhh.. ahhh…,” kata Jenny. Diapun tak rela Panca menghentikan anal padanya. soalnya dia sedang keenakan dientot Panca sambil ngocok kontolnya sendiri.
“Hehehehe… suka ya ama kontol guehhh…?” kata Panca ge er. Jenny cuman mesem.
Akhirnya tak terjadi pertukaran pasangan lagi. Mereka terus melanjutkan aksi ngentot itu hingga semuanya orgasme. Setelah itu semuanya orgasme, mereka beristirahat sejenak dengan nafas yang tersengal-sengal.
Malam itu pesta sex berlanjut terus dengan selingan nonton bokep dan mabok. Randy tetap bertahan tak bersedia untuk ngentot atau dientot dengan teman-temannya yang instruktur fitness itu. Hanya pada para waria penari itu ia mau melakukannya. Pada Chandra yang juga pengen merasakan kontol Randy dalam lobang pantatnyapun ia tak mau. Namun sesungguhnya dalam batin Randy rasa penasaran ingin menggagahi laki-laki macho dan kekar itu telah tumbuh. Randy tetap menjaga wibawanya dihadapan teman-temannya itu. Ia tergoda melihat mereka saling melampiaskan birahi dengan penuh kenikmatan.
Rasa penasaran itu akhirnya dilampiaskannya beberapa hari kemudian pada Thomas, adik sepupunya yang masih ABG. Thomas yang datang beserta papa dan mamanya karena akan mempersiapkan pesta pernikahan Randy akhirnya jadi tempat Randy melampiaskan rasa penasarannya itu.
Saat itu Thomas sedang sendiri di rumah. Bermain gim di kamar Andre, adik kandung Randy. Sedangkan seluruh keluarga Randy beserta mama dan papa Thomas sedang pergi. Andre sendiri belum pulang dari sekolah.
Cara yang paling klasik digunakannya untuk merangsang bocah imut itu. diajaknya Thomas nonton VCD di kamarnya. Film yang diputarnya adalah bokep. Setelah Thomas dilihatnya mulai terangsang diajaknya melakukan coli bersama. Dari mulai coli masing-masing hingga berlanut dengan saling mencolikan. Akhirnya coli itupun berujung pada persenggamaan diantara mereka berdua. Dan tanpa sepengetahuan mereka, Andre mengintip apa yang mereka lakukan di dalam kamar itu!
Tamat

Cerita 1

0 komentar


“Ndre, abis sekolahan langsung balik ya, jangan kemana-mana lagi” pesan Nyonya Vera pada anaknya, Andre, yang masih duduk di kelas 3 SLTP melalui hand phone.
“Kenapa emangnya Ma?” tanya Andre.
“Thomas gak ada temennya tuh di rumah. Mama dan dan Tante Serly mau belanja untuk kebutuhan pesta Mas Randy nih,”
“Lho, kan ada Papa dan Om Darwin di rumah,” sambung Andre lagi.
“Papa dan Om Darwin katanya akan ke rumah Om Dani, membicarakan persiapan untuk resepsi, Pokoknya kamu cepat ulang ya. Thomas kan deket sama kamu. Kalian bisa maen gim di rumah. Pokoknya cepat pulang deh, Mama udah mau pergi nih, entar kesorean, bla…bla…..,” kata-kata Mamanya udah gak didengerin Andre lagi. Dia agak kesal juga, rencananya untuk maen dengan teman-temannya sepulang sekolah, gagal total.
Mau gak mau dia memang harus pulang nemenin Thomas, sepupunya. Meski kesal, Andre gak mau pusing denger omelan Mamanya karena dia tidak mengikuti apa yang dipesankan oleh Mamanya tadi. Maka, begitu bel tanda usai pelajaran berbunyi Andre segera pulang.
“Pak Darman, langsung pulang aja deh,” katanya pada sopir yang menjemputnya.
“Gak maen dulu Mas?” tanya Pak Darman, sopirnya.
“Mau maen gimana Pak, bisa kena omelan Mama entar. Thomas di rumah gak ada yang nemenin,” jawabnya kesal.
Tak bertanya lagi Pak Darman segera melajukan mobil menuju rumah keluarga Andre di kawasan Pondok Indah.
Thomas adalah anak semata wayang Om Darwin, adik Papanya dengan Tante Serly. Mereka baru tiba Hari Minggu kemaren dari Surabaya. Dalam rangka pernikahan Mas Randy Hari Minggu depan dengan Mbak Tania, Mama meminta Tante Serly untuk membantunya mempersiapkan acara pernikahan itu. Karena itu Om Darwin dan keluarga akhirnya datang ke Jakarta. Om Darwin terpaksa harus cuti seminggu karena itu. Sedangkan Thomas izin dari sekolah. Karena di Surabaya tidak ada yang menjaganya.
Thomas sebaya dengan Andre. Biasanya kalau keluarga ngumpul memang mereka selalu bersama-sama. Soalnya sepupu yang lain sudah lebih tua dari mereka. Rata-rata sepantaran dengan Randy, kakak Andre satu-satunya. Andre dan Randy memang terpaut jauh umurnya. Hampir 12 tahun.
Tak lama mobil yang membawa Andre tiba di rumah. Pak Darman segera memarkirkan mobil ke dalam garasi.
“Lho, Mas Randy ada di rumah ya Pak Darman?” tanya Andre pada sopirnya. Soalnya di garasi dia melihat mobil kakaknya itu parkir.
“Gak tau Mas Andre, tadi waktu Bapak pergi ke sekolah, Mas Randy gak ada tuh di rumah,” jawab Pak Darman.
Tak bertanya lagi Andre segera masuk ke rumah. Menuju kamarnya. Biasanya Thomas sedang main gim disana. Di kamarnya dia tak menemukan Thomas. Kamarnya kosong tak ada orang. Yang ditemukannya adalah peralatan gimnya yang berantakan. Mungkin tadi Thomas sempat bermain gim di kamar.
Setelah melemparkan tas sekolahnya ke ranjang dan membuka sepatu sekolahnya, Andre keluar kamarnya untuk mencari Thomas. Dia menuju dapur, pikirnya siapa tau Thomas sedang makan disana.
Di dapur juga tak ditemukannya Thomas. Yang ada hanya Mbok Jum, pembantu rumah, yang sedang mencuci piring.
“Liat Thomas Mbok?” tanya Andre.
“Tadi makan disini, lima belas menit lalu bareng Mas Randy. Mungkin ke kamarnya Mas Randy. Soalnya tadi Mas Randy ngajak Mas Thomas liat pilem di kamarnya. Katanya ada pilem bagus, baru dipinjemnya,” jawab Mbok Jum.
“Mas Randy gak ngantor Mbok Jum?” tanya Andre lagi.
“Katanya udah ambil cuti Mas, sejak hari ini sampe dua minggu ke depan,” jawab Mbok Jum.
Andre segera menuju kamar Mas Randy. Kamar kakaknya itu terpisah dari bangunan induk rumah. Letaknya dibelakang, seperti pavillyun. Kalau Mas Randy mau pergi atau pulang tanpa melalui bangunan induk rumah juga bisa. Karena ada jalan yang menghubungkan kamarnya dengan garasi.
Pintu kamar Mas Randy tertutup. Gordyn biru menutupi jendela kaca kamar itu. Lagi nonton pilem apa sih? Kamar kok sampe di tutup-tutup kayak gitu? Tanya Andre dalam hati. Andre segera mendekati pintu kamar. Saat tangannya bermaksud memutar gerendel pintu, tiba-tiba didengarnya suara erangan dari dalam kamar itu.
Itu kan suara erangan Mas Randy, gumam Andre dalam hati. Pikiran mesum muncul di kepalanya. Jangan-jangan Mas Randy lagi ngentot sama Mbak Tania nih. Kesempatan lagi orang gak ada di rumah. Soalnya memang sering Andre memergoki Mas Randy ngentot dengan Mbak Tania di kamar itu. Malah, bukan hanya dengan Mbak Tania. Beberapa kali Mas Randy juga pernah membawa perempuan lain selain Mbak Tania, untuk ngentot di kamar itu. Biasanya atraksi ngentot yang dilakukan Mas Randy bertepatan pada saat Mama dan Papa Andre sedang tidak ada di rumah.
Andre segera menuju celah tempat biasanya dia mengintip Mas Randy. Celah itu adalah jendela kecil yang ada di kamar Mas Randy. Jendela kecil itu memang tidak pernah di kunci oleh Mas Randy, paling hanya di rapatkan saja.
Andre tak pernah ketahuan mengintip dari celah itu. Soalnya Mas Randy kalo ngentot suka gila-gilaan. Tak peduli dengan sekitarnya. Kadang Andre berfikir, jangan-jangan bukan dia saja yang sudah tau kegiatan mesum yang sering dilakukan Mas Randy di kamar itu. Pembantu rumah bukan tak mungkin sudah mengetahuinya juga. Soalnya kalau sudah orgasme Mas Randy suka menjerit tak terkontrol. Membayangkan apa yang akan dilihatnya di dalam kamar, membuat kontol Andre yang lumayan gede itu segera ngaceng.
Dari celah jendela itu, Andre memandang ke dalam kamar Mas Randy. Pandangannya langsung berumbuk pada tubuh telanjang Mas Randy yang sedang telungkup menindih seseorang. Pantatnya memompa maju mundur dengan cepat. Tubuh Mas Randy yang putih bersih dan kekar itu, basah oleh keringat yang membanjir.
Astaga!!!!!!! Andre terhenyak. Seperti disambar geledek, ia kaget dan tak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya.
Bukan Mbak Tania yang sedang di tindih oleh Mas Randy. Bukan pula perempuan lain. Tubuh putih bersih yang sedang telungkup diatas ranjang dan sedang ditindih rapat oleh Mas Randy itu adalah tubuh Thomas, sepupunya!
Sepupunya yang ganteng dan bertubuh langsing atletis itu dilihatnya sedang meringis-ringis sambil mengerang-erang kuat. Sementara diatasnya Mas Randy terus memompa pantatnya dengan gerakan menghentak-hentak kuat. Menimbulkan bunyi tepukan yang cukup kuat akibat pertemuan buah pantat Thomas dan paha Mas Randy yang kokoh.
Andre melotot tak berkedip melihat aksi kakak dan sepupunya itu. Kontolnya dirasakannya semakin ngaceng. Tubuhnya bergetar menahan gairah. Tangannya mulai meremas selangkangannya sendiri. Andre terangsang melihat aksi persetubuhan itu.
Diatas ranjang Mas Randy masih terus memompa pantatnya. Mengeluar masukkan kontolnya yang besar ke lobang pantat Thomas. Sementara kedua tangan Thomas melingkar kebelakang, memegang bongkahan pantat mas Randy, meremas-remas.
“Ohhhh…ohhhhh…Thomasshhhhhh….enak bangethhhhh…….sempithhhhhh…bangethhhhh….lobang pantathhhmuhhhh……,” racau Mas Randy.
“Mas Randyhhhhh….goyang yang keras Mashhhhh….yang keras Mashhhhhhh…..oh..gituhhhhh Mashhhhhh……,” racau Thomas.
“Kamu suka Thomashhhhh….kamu sukahhh…….kamu sukahh kontolku dalam pantamuhhh…ohh….sepupu mungilkuhhh…yang tampanhhh…ohhh….,” racau mas Randy.
“Sukahhh….ohkkkk…..sukahhh…bangethhhhhhh….Mashhhhhh…….kontol Mash Randyhhh…gedeh Mashhhhhh….rasanya pol di dalam Mashhh……okhhhhhh…….,” racau Thomas.
“Kamuh kesakitanhhh akhhhhhh….kesakitankahh……Thomashhh…,” racau Mas Randy.
“Gakjhhhh…gakhhhhh lagihhh Mash….enakhhhh….enak…..terusin Mashhhhhh…terushhhhhh…,” racau Thomas.
Andre semakin gila mendengar percakapan mesum kakak dan sepupunya itu.
“Enak bangethhh…ohhh….enak bangethhhh…..enak banget…Thomasssshhhhh…,” racau Mas Randy.
“Enak manah…enak manah….sama memekhh Mbak Taniah…ohhhhh….enak manahh Manasssshhhh?” racau Thomas.
“Enak pantat kamu Thomas, ahhhhh, enak pantat kamu sayang…ohh..oh…oh…oh…,” racau Mas Randy.
Demikianlah seterusnya. mas Randy terus memompa kontolnya di lobang pantat Thomas, hingga akhirnya dia menumpahkan spermanya di lobang pantat itu.
Setelah Mas Randy usah dengan hasratnya gantian Thomas yang menyetubuhi Mas Randy. Mas Randy telentang mengangkang di ranjang sedangkan Thomas menggenjotnya dari atas menelungkup. Sambil ngentot mereka berciuman mesra.
“Ohh…Thomasshhhhhhhh…enak banget Thomashhhhh….aku gak pernah nyangkahhhh….dientot ternyata enak bangethhhhhh…ohhh…,” racau Mas Randy keenakan.
“Mas Randyhhhh…lobang pantat Mashhh sempit banget..njepit kontolku Mash…enak bangethhh…,
Setelah beberapa saat akhirnya Thomas orgasme juga. Tubuhnya segera roboh diatas tubuh Mas Randy. sementara di luar kamar Andre juga memuncratkan spermanya. Banyak sekali.
Tamat
Ini hanya sekadar cerita selingan. semoga yang baca seneng. kalau tidak ada alur dalam cerita ini ya maklumi aja deh. cerita ini cuman sekadar bantu yang baca untuk membangkitkan birahinya sambil coli. hehehe

Acara pemberkatan pernikahan Mas Randy akan dilangsungkan di gereja pukul sepuluh pagi ini. Andre melirik jam tangan yang melingkar di lengan kirinya, masih pukul delapan, tapi mamanya sudah sibuk menyuruhnya dan Thomas untuk bersiap-siap sejak pukul tujuh tadi. “Ayo jas hitamnya dipakai sekarang. Kalian kan pengiring pengantin prianya. Kalo gak siap-siap dari sekarang entar repot deh. Ayo dong, dipakai jasnya sekarang,” kata mamanya tadi, dengan suaranya yang nyaring.
Sebenarnya Andre malas menggenakan pakaian jas. Badannya suka cepet keringetan. Tapi karena dia dan sepupunya, si Thomas, ditugaskan untuk menjadi pengiring pengantin pria, mau gak mau pakaian jas warna hitam dipakainya juga.
Andre mematut-matut dirinya di depan cermin besar dalam kamar. Meski gerah, penampilannya jadi oke sekarang. Dia merasa semakin ganteng dalam setelan jas hitam itu. akhirnya dia senyum-senyum sendiri. Ge er dengan penampilannya.
Model jas Andre persis sama dengan yang dikenakan Thomas. Bahan, warna dan modelnya sama. Papanya dan Om Darwin juga sama jasnya dengan yang dikenakan Andre. Hanya Mas Randy yang berbeda. Jas Mas Randy bentuknya seperti tuxedo yang bagian belakangnya lebih panjang dari depannya.
Andre tersadar kalau Thomas tak ada lagi didekatnya. Karena kegeeran sendiri mengagumi penampilannya dia tak sadar sepupunya itu sudah meninggalkannya sejak tadi.
Andre meninggalkan kamar, mencari sepupunya itu. Sepupu yang pernah dipergokinya sedang ngentot dengan Mas Randy, kakaknya, beberapa hari lalu. Andre jadi teringat kembali peristiwa itu. “Ihhh.. ada-ada aja deh Mas Randy itu. Si Thomas laki-laki diembat juga. Si Thomas juga edan. Masak dia mau ngentot dengan Mas Randy sih?” katanya dalam hati. Tapi meski gitu Andre bingung juga pada dirinya sendiri. Karena waktu ngelihat mereka ngentot, dia terangsang juga.
Semua orang seisi rumah sedang sibuk sendiri. Andre nanya ke mamanya dan tantenya dimana Thomas berada malah kena marah. Akhirnya dia mencari Mbok Jum, pembantunya.
“Thomas kan tadi dimintai tolong Mas Randy buat ngerapihin pakaiannya Mas,” kata Mbok Jum. “Coba liat di kamarnya Mas Randy deh,” petunjuknya.
Minta tolong ngerapihin pakaian? Masak Mas Randy gak bisa sendiri? Pikir Andre. Sedangkan dia yang masih duduk di bangku kelas 3 SLTP aja bisa beresin pakaian sendiri. Pikiran kotor pada kakaknya itu langsung muncul. Jangan-jangan mereka lagi entot-entotan kayak kemarin lagi. Bayangan pergumulan Mas Randy dan Thoimas kembali muncul di benaknya.
Bergegas, Andre menuju kamar Mas Randy. Sasarannya, tempat biasanya dia ngintip. Eng ing eng. Begitu matanya dapat melihat pemandangan dalam kamar, kepalanya menggeleng-geleng. Dugaannya benar. Pemberkatan tinggal hitungan beberapa jam saja, tapi kakaknya itu masih menyempatkan juga untuk mengentoti sepupunya, si Thomas. Di dalam kamarnya. Diatas ranjangnya yang sudah dihias menjadi ranjang pengantin!
“Dasar edan,” guman Andre. Matanya melotot melihat apa yang sedang dilakukannya kakaknya itu dengan sepupunya. Keduanya mengentot diatas ranjang dengan pakaian lengkap. Sepatu hitam berkilat masih melekat di kaki mereka. Hanya saja pipa celana panjang mereka berdua dilepas dari kaki yang sebelah kiri. Soalnya kalau enggak di lepas, mana bisa mereka mengangkat kaki kiri lebar-lebar ke atas seperti aksi mereka saat ini.
Mas Randy berbaring di belakang Thomas. Kaki kirinya terangkat ke atas menekuk sejajar dengan kaki Thomas yang dipeganginya dengan tangan kirinya. Pantatnya bergerak-gerak cepat maju mundur. Kontolnya yang besar dan mengkilat karena basah, keluar masuk lobang pantat Thomas yang sempit. Keduanya mengerang-erang dan meracau tertahan. Mungkin takut suara erangan mereka terdengar keluar. Kalo kedengaran emang bahaya. Soalnya isi rumah kan lagi rame.
“Mas Randyhhh oohhh.. Mashhhh enjot yang kerasshh Mashhh…,” kata Thomas.
“Iyah Thomasshhh hehhh heehhhh… rasakan inihh…,”
“Ohhhh… enak banget Masshhh… ohhh…. Mas Randyhh doyan yahhh sama pantat Thomashhsshhhh.. ahhh… ahhh.. doyan yahh..?”
“Doyan banget Thomasshhh.. doyan bangethhh…Mas Randyhh mau entotin Thomasshh tiap hari dehh.. ohhhh..,”
“Ohhhh…ohhh… terus Mbak Taniahh ssshhhh gimanahh ? Ssshhh..,”
“Mbak Taniah kalo malem.. ohhh… Thomashhh siang-sianghhhssss..,”
“Thomasshhh pengennyahh malemmm shhh..,”
“Iya Thomas malem jugah ahh ahhh ahhh, kalo Mbak Taniah udah tidur ah ah ah,”
Andre jadi terangsang dengar percakapan dan lihat pergumulan mesum kakak dan sepupunya itu. sama seperti ketika ia pertama kali melihat pergumulan cabul itu. Resleting celana panjang hitamnya diturunkan. Dikeluarkannya kontolnya dari balik celana dalam putihnya. Kontol itu digenggamnya dan dikocok-kocok perlahan.
“Mashhhh ohhhh Masshhhhh……kontol Mas Randyhh gede bangethhhh ohhhh jembutnya juga lebathhh shhhh..shhh… Thomas suka bangethhh sshhh..,”
“Kontol Thomassshhh juga Mas Randyhh sukahhh..ssshh ahhh ahhh ahhh,”
“Tapihhh ahhh shhhh kan masih kecilll sshhhh dan jembutnya tipisshhhh….,”
“Entar kan gedeh sshhh..shhhh..ahhh ahhhh ahhhh ahhhh,”
“Kontol Thomasshhh enakhh Mashh? Ahhhh… ahhh… ahhhh..,”
“Enak banget hhhhhhaahhh.. ahhh….ssshhhh… apalagihhh… ahhh… kalo udahhh sshhhh gedehhh.. ahhh…a ahhh…,”
“Oooohhh Mashhhh…Mashhhhh kerashhh Mashhh.. lebih kerassshhhhh.. ohhhh..,”
Suara hentakan pantat Mas Randy semakin keras terdengar oleh Andre. Begitu juga nafas mereka berdua yang mendengus-dengus tertahan dengan keras. ABG ganteng ini jadi semakin terangsang. Kocokan tangan dikontolnya semakin cepat.
Kembali ke dalam kamar. Thomas tiba-tiba melepaskan kontol Mas Randy dari lobang pantatnya. “Kenapa Thomashhh? Ada apahh?” tanya Mas Randy bingung.
“Shhh… entot Thomas sambil berdiri Mas. Gendong Thomas ya Mas? Thomas pengen dientot sambil digendong Mas Randy. Kayak dulu Mas Randy sering gendong Thomas,” kata bocah ABG itu tersenyum sayang pada kakak sepupunya yang ganteng dan jantan.
“Thomas makin pinter ya. Sampe punya ide begitu. Ya udah sini Mas gendong,” sahut Mas Randy sambil tersenyum juga. Ia segera berdiri dan siap menggendong adik sepupunya yang langsing namun cukup atletis itu.
Dari tempatnya mengintip, Andre bisa melihat Thomas melingkarkan lengannya ke leher kakaknya. Wajah mereka beradu rapat. Bibir mereka menempel, berciuman. Telapak tangan Mas Randy memegang buah pantat Thomas yang putih kemerahan. Buah pantat itu diturunkannya pelan-pelan ke bawah. Kontol Mas Randy masuk sedikit demi sedikit ke lobang pantat Thomas yang terkuak. Membentuk bulatan berwarna kemerahan.
“Ohhhhhhhhh… Mashhhhhhhhhhh………….,” erang Thomas seiring kontol Mas Randy menembus lobang pantatnya.
Setelah kontol itu masuk semua dalam lobang pantat Thomas, hingga jembut Mas Randy yang lebat menempel di buah pantat Thomas, dimulailah persenggamaan kembali. Tangan Mas Randy menggerakkan buah pantat Thomas naik turun sambil pantatnya juga bergerak-gerak perlahan. Kontol Mas Randy bergerak keluar masuk lobang pantat sepupunya itu.
Andre semakin terangsang melihat posisi kakaknya dan sepupunya itu. gerakan pantat dan tangan Mas Randy semakin cepat. Dengusan nafas mereka semakin cepat dan keras terdengar. Andre tak pernah melihat kakaknya itu mengentoti Mbak Tania seliar ini. Apa yang pernah dilihatnya dilakukan oleh Mas Randy saat mengentot Mbak Tania di kamar itu tak lebih dari sekadar saling menindih dan menggerakkan pantat saja. Hingga sperma Mas Randy menyembur di memek Mbak Tania. Gak lebih.
Tapi Mas Randy mengentot Thomas begitu berbeda. Kakaknya itu kelihatan sangat bernafsu. Ia sangat menikmati sekali bersenggama dengan sepupu mereka yang ganteng itu.
Andre tak tahan lagi menahan orgasmenya. Apa yang dilihatnya sangat menggairahkan buatnya. Kontolnya segera menyemburkan sperma. Menempel di dinding dan sedikit di jas hitamnya. “Hohhh…hohhh…hohhhh…,” dengus nafas Andre saat orgasmenya datang. Matanya terpejam. Mulutnya menganga. Tubuhnya keringatan.
Sementara di dalam kamar, persetubuhan masih terus berlangsung. Mas Randy rupanya ingin menyetubuhi Thomas lebih intens lagi. Tubuh Thomas kini dirapatkannya ke dinding. Punggung Thomas menekan di dinding itu. Dengan begitu Mas Randy dapat menyodok lobang pantat Thomas semakin cepat dan keras. Nafas Mas Randy terengah-engah saat menggenjot pantatnya dengan cepat dan keras.
“Ohh.. ohhh…ohhh…ohhh…ohhh… Thomasshhhhh..Masshhh Randyhhh samapaihhh…ahhh…ahhh..,” erang Mas Randy tertahan. Pantatnya mengehntak keras menekan kontolnya dalam-dalam ke lobang pantat Thomas. Tubuhnya bergetar. Pantatnya mengempot. Spermanya menyembur dalam lobang pantat Thomas. Andre yang masih tetap mengintip, melihat pantat kakaknya itu mengkilap karena keringat. Mulut Mas Randy melumat bibir Thomas dengan buas. Setelah beberapa saat berciman keduanya tertawa kesenangan. Puas dengan persetubuhan yang baru saja mereka lakukan.
Lalu Mas Randy menggendong tubuh Thomas ke atas ranjang. Membaringkannya disana, bersisian dengannya yang juga berbaring telentang dengan nafas terengah-engah. Mereka tetap saling emmandang dan tertawa-tawa. Thomas mengangkat kedua pahanya ke atas. Dia sibuk emmeriksa lobang pantatnya yang belepotan sperma Mas Randy. Dengan jari-jarinya dilumurinya sperma Mas Randy merata ke seluruh pantatnya, juga ke buah pelir dan batang kontolnya. Daerah yang dilumurinya sperma itu terlihat mengkilap jadinya.
“Mas Randy, Thomas masih sempat gak buat ngentotin Mas Randy sekarang?’ tanyanya. Mas Randy melihat jam tangannya.
“Masih dong Thomas. Baru jam setengah sembilan kok. Mau dimulai sekarang?” tanya Mas Randy.
“Kalo Mas Randy ngijinin,” katanya.
“Diplomatis banget sih ngejawabnya,” Mas Randy tertawa. “Mau gaya apa? Dimulain aja sekarang. kalau liat-liatan terus, entar waktunya habis,” kata Mas Randy.
Thomas berpikir sejenak. Memikirkan model persenggamaan yang akan dilakukannya bersama Mas Randy. Andre yang sedang mengintip jadi gak sabaran. “Ngapain sih Thomas mikir gitu aja lama,” gerutunya.
“Thomas pengen Mas Randy ngerokok sambil dientotin ama Thomas?”
“Haa?” Mas Randy terkejut. “Kok gitu sih?”
“Iya, pengennya gitu. Ayo dong Mas,” kata Thomas dengan kekakanakan.
“Dasar deh. Thomas kebanyakan nonton bokep ya. Samapai fantasinya sejauh itu,” sahut Mas Randy. Tapi tak urung dilakukannya juga kemauan adik sepupunya itu. Mas Randy memang perokok. Segera dinyalakannya rokok dan diselipkannya di bibirnya yang tipis. “Trus gimana nih?” tanya Mas Randy. Andre sudah tak sabar pengen ngelihat model entotan versi Thomas ini.
“Mas Randy duduk di kursi situ,” katanya. Mas Randy kemudian duduk di kursi yang ada di kamarnya. Thomas melebarkan kedua paha Mas Randy ke kiri dan ke kanan, diatas pegangan kursi itu. Paha Mas Randy jadi mengangkang lebar. Belahan pantatnya jadi terkuak lebar. Mempertontonkan lobang pantatnya yang berbulu, menantang birahi Thomas. Mas Randy menghisap rokoknya dalam-dalam. Kemudian meniupkan asapnya yang tebal ke wajah ganteng Thomas.
Thomas langsung mencium bibir Mas Randy. Berbagi sisa asap yang masih mengepil dari mulut kakak sepupunya yang ganteng itu. kemudian dia menatap belahan pantat Mas Randy yang menganga. Dalam pandangannya belahan pantat Mas Randy jadi begitu indah.
Sekejap kemudian wajahnya sudah bersarang di belahan pantat itu. menjilat-jilat dan menyeruput lobang pantat itu dengan buas.
“Hsssshhhhhh… Mas Randyyhhhh… Thomas suka banget dengan lobang pantat Mas inihhh sshhhhh…..sruppp..,” katanya sambil terus bekerja keras mengerjai lobang pantat Mas Randy. Andre yang mengintip, kembali bangkit birahinya melihat aski sepupunya itu. Tangannya kembali mengocok kontolnya.
Mas Randy terus merokok sambil merem melek keenakan dikerjai Thomas. Kontolnya berdiri tegak ke atas. Ia terpaksa mengangkat jasnya ke atas agar tak kena dengan kontolnya sendiri. Ia kuatir precumnya akan menodai jas pengantinnya itu.
Setelah beberapa menit Thomas merasa cukup mengerjai lobang pantat Mas Randy. Ia kemudian berdiri di hadapam kakak sepupunya yang terus merokok.
“Bagi rokoknya dong Mas,” kata Thomas.
“Ehhh.. anak kecil mau merokok. Gak boleh. Yang boleh Thomas isep cuman rokok Mas Randy ini aja,” katanya sambil mengacung-ngacungkan kontol besarnya yang tegak. Thomas tertawa lucu mendengar kata-kata Mas Randy. Mulutnya mencium lagi bibir Mas Randy. Sekaligus menghirup asap rokok dari mulutnya.
Kemudian ia menekuk kakinya sedikit. Kontolnya diarahkannya ke lobang pantat Mas Randy. Kontol itu kemudian amblas ke dalam lobang pantat Mas Randy membuat pria yang akan segera menikah ini mengerang tertahan.
Thomas mulai menggenjot pantatnya maju mundur. Kontolnya keluar masuk lobang pantat Mas Randy. Sementara di luar kocokan kontol Andre mulai bertambah cepat. Ia mendesah-desah keenakan.
Pantat Thomas pun bergerak semakin cepat. Ia melenguh-lenguh keenakan. Mas Randy mengerang-erang sambil mengisap rokoknya dalam-dalam. Akhirnya entotan Thomas mencapai akhir juga. pantatnya bergerak sangat cepat dan menghentak-hentak beberapa kali untuk kemudian terhenti mendadadak. Pantatnya itu menekan kuat ke selangkangan Mas Randy. Spermanyapun menyembur deras membasahi seluruh lorong lobang pantat Mas Randy.
“Mas Randy mau dikeluarin sekali lagi?” tanya Thomas lirih. Wajahnya merah bersimbah keringat.
“Iya.. iya…ahh..,” kata Mas Randy. Meski merasa tubuhnya lemas, Thomas segera mengocok kontol kakak sepupunya itu dengan tangan kanannya. Kontolnya masih tetap bersarang dalam lobang pantat Mas Randy. Nafas Mas Randy tersengal-sengal. Asap rokok menghembus cepat dari mulut dan hidungnya.
Andrepun mengocok kontolnya semakin cepat. Orgasmenya akan datang sekali lagi.
“Ohhhhh…ohhhhh….ohhhh….oohhhhh…..yahhh….Thomasssshhhhhhhhh…ahhhhhhh..,” erang Mas Randy panjang. Suaranya ditahannya sekuat tenaga. Tubuhnya kelojotan. Thomas segera menundukkan kepalanya. Tubuhnya membungkuk. Andre tak percaya Thomas bisa membungkuk seperti itu. padahal kontolnya masih tertanam di lobang pantat Mnas Randy. Menunduknya Thomas ini untuk memasukkan kepala kontol Mas Randy dalam mulutnya. Ia tahu kakak sepupunya itu akan segera orgasme. Kalu ia tak menutup kepala kontol itu dengan mulutnya, maka sperma Mas Randy akan menyembur ke atas dan membasahi jas hitam mereka.
Sperma Mas Randy menyemprot deras di dalam mulut Thomas. Sepupunya yang masih ABG itu berusaha sebisanya menelan seluruh sperma itu. Namun karena sperma yang muncrat terlalu banyak, Thomas tak bisa menelan seluruhnya. Sebagian meleleh keluar dari mulut Thomas, mengalir turun dari batang kontol Mas Randy ke bawah, membasahi jembutnya yang hitam dan lebat.
Di luar Andrepun orgasme kembali. Spermanya kembali membasahi dinding yang ada didepannya. Menambahi jumlah sperma miliknya yang tadi juga sudah menempel disitu.
Setelah memastikan orgasme Mas Randy usai, Thomas melepaskan mulutnya dari kakak sepupunya itu. keduanya kemudian saling memandang dan tersenyum. Untuk kemudian tertawa dengan wajah masih memerah dan bersimbah keringat.
“Sssshhhhh…enak banget Thomasshhh..,” kata Mas Randy sambil menghembuskan asap rokok terakhirnya. Puntung rokoknya dibuangnya ke asbak rokok yang tadi diletakkannya di bawah kursi. “Kamu makin pinter aja Thomasshh,” katanya mencubit pipi asik sepupunya itu.
Beberapa saat mereka tetap dalam posisi seperti itu. Thomas belum mau juga mencabut kontolnya dari lobang pantat Mas Randy. Nafas mereka masih terengah-engah.
Setelah lima menit berlalu, Mas Randy beringsut. Thomas mencabut kontolnya dari Mas Randy. “Kita harus mandi lagi nih Thomas,” kata Mas Randy. Keduanya kemudian melepaskan jas hitam mereka. Dari luar Andre bisa melihat kemeja putih, dalaman jas mereka, basah kuyup. Kaos dalam mereka terlihat jelas jadinya.
“Mas Randy, harus buru-buru nih. Udah hampir jam setengah sepuluh,” kata Thomas.
“Iya. Makanya cepetan mandi,” kata Mas Randy.
Kemeja basah mereka letakkan di kipas angin yang dihidupkan. Paling tidak kemeja itu akan sedikit kering jadinya oleh angin yang berhembus dari kipas angin. Dengan tubuh telanjang bulat Mas Randy dan Thomas segera masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dalam kamar mandi kakak Andre itu.
Suara shower segera terdengar dari dalam kamar mandi. Andre segera berlalu dari tempatnya mengintip. Tak ada lagi yang perlu diintipnya di kamar Mas Randy. Kakak dan sepupunya itu pasti sedang kelabakan sekarang, emmebereskan diri untuk bersiap-siap mengikuti acara pemberkatan. Andre meninggalkan kamar kakaknya itu tanpa merasa perlu untuk membersihkan dulu spermanya yang menempel di dinding. Dibiarkannya saja begitu.
Pemberkatan pernikahan Mas Randy dan Mbak Tania dimulai tepat pukul sepuluh pagi. Kakaknya dan sepupunya, Thomas, dilihat Andre sudah rapi kembali saat mereka bersiap berangkat ke gereja. Didalam mobil saat berangkat ke gereja Andre sempat meraba punggung sepupunya itu. dirasakannya punggung Thomas masih lembab. Rupanya kemejanya dan juga jasnya tidak kering sempurna.
“Elo kemana tadi? Gue cariin gak ketemu?” Andre menyempatkan bertaya pada sepupunya itu dalam mobil.
“Mas Randy minta tolong dirapihin pakaiannya tadi,” sahut Thomas tanpa merasa bersalah sedikitpun. Ia merasa Andre tak tahu apa yang terjadi padanya dan Mas Randy.
“Oooo. Ada-ada aja Mas Randy, udah segede itu gak bisa rapihin pakaian sendiri,” celetuk Andre mendengar jawaban Thomas. Sepupunya itu tak menjawab lagi. Diam saja, dan pura-pura memandang lurus ke arah depan. Ke jalan raya yang padat kendaraan. Sementara Andre tertawa sendiri dalam hati.
Tamat

Silahkan berkomentar :

Disqus for ekstralargexxx